Minggu, 26 Januari 2014

Hujan dan Resiko



Silahkan memilih, tetapi resiko yang menyertai sebuah pilihan tidak bisa dipilih. Waktu juga ‘ndak’ bisa diputar untuk mengoreksi ulang pilihan”


Sore itu hujan turun dengan derasnya, di beranda rumah tak sengaja saya mendengarkan perbincangan serius antara Ibu saya dan Bu Wondo. Dari nada bicara bu Wondo, sepertinya beliau sedang serius menanggapi apa yang ibu saya ceritakan. Penasaran, akhirnya saya bergabung dan menyimak. Ternyata, tidak seserius tanggapan bu Wondo (seharusnya). Saya pun tertawa dalam hati ketika mengetahui yang menjadi bahan pembicaraan adalah HUJAN dan MANTEL. Sepele memang, tetapi poinnya pentingnya yaitu KEBERANIAN- berani mengambil resiko.
“lho, ‘njenengan’ kok basah semua?’ Tanya bu Wondo. “Saya sengaja tidak membawa mantel Bu, ketika berangkat hari masih cerah, lagipula saya sudah cukup berat membawa buku-buku. Saya sudah berhenti untuk berteduh sekian jam, tetapi hujan tak berhenti juga. Padahal, saya ada janji penting dan akhirnya mereka membatalkannya. Apa ini namanya apes Bu?.” Keluh ibu saya.  Sambil tersenyum Bu Wondo berkomentar, “ Apa ‘njenengan’ lupa kalau kita berada di musim hujan bu? Seandainya ‘njenengan’ berani berat, mungkin ini semua tidak terjadi. Bawaan ‘njenengan’ memang sudah terlalu berat, tetapi kalau ‘njenengan’  berani mengambil resiko sedikit lebih berat. Pertemuan pentingnya masih bisa ‘njenengan’ hadiri.”

Kita tidak pernah tau apakah pilihan kita sudah tepat ataukah salah. Tepat atau tidak, resiko pastilah ada. Jangan pernah sesali pilihan, karena waktu tak akan pernah kembali. Ketika hal buruk terjadi dan memaksa  kita untuk menyesali pilihan itu, tentunya kita tidak akan bertahan dengan siksaan rasa sesal itu bukan? Yang harus kita lakukan hanya harus menerimanya, boleh menyesalinya tetapi sebentar,  hanya sebentar, jangan membuang waktu dalam penyesalan. Selanjutnya lakukan sesuatu dan mulailah melupakannya. dari sini kita akan menemukan sebuah pelajaran atau hikmah.
Jadi, resiko kadang laksana hujan, kalau kita siap, kita bisa melewatinya. tapi kalau kita tak memiliki persiapan, kita hanya harus membuang waktu sekian ratus bahkan sekian ribu detik untuk menunggunya reda. Jadi, persiapkan dirimu menghadapi semua resiko kehidupan ...

Sabtu, 25 Januari 2014

Yang Terabaikan

Untukmu yang selalu membuatku tak ingin memejamkan mata meski sebenarnya aku mengantuk.
Untukmu yang selalu bisa membuatku tertawa menghadapi dunia walau sebenarnya di pundakku begitu banyak beban yang kupikul.
Untukmu yang bisa tau aku menangis tanpa melihatku, dan tanpa ku ucapkan sepatah katapun.
Untukmu yang hanya bisa kurasakan hangatmu dalam anganku.
Dan untukmu yang hanya bisa kudengar suaramu....

Tak ada nama untuk perasaan ini, perasaan yang lebih mulia dari teman, dan lebih indah dari cinta.
Aku sadar kehadiranmu yang sekejap ini telah mampu membuat banyak perubahan dihidupku.
Dari jalan yang mendatar, menjadi jalanan yang berliku penuh tantangan.
Dari abu-abunya langitku, menjadi cerah dan penuh warna.
Kamu yang bisa membuatku berani mengambil keputusan yang sama sekali tak pernah terpikirkan resikonya.

Jika aku tau kamu bisa memberiku mata air dipadang gersangya hatiku, mungkin sudah sejak pertama kali aku melihatmu, aku seharusnya mengijinkanmu memasuki hatiku.
Sehingga bisa lebih lama kurasakan warna langitku yang tak hanya abu-abu.
Sehingga aku bisa merasakan rasa 'nyaman' itu lebih lama.
Seharusnya aku tak melewatkanmu begitu saja.

Kini, menyesali hal lalu tidaklah berguna.
Aku akan terus memintaNYA untuk memberikah yang terbaik untuk kita.
Hingga nanti aku bisa menggenggammu dalam nyata.
namun, jika nanti langitku kembali menjadi abu-abu, dan tak ada aku dihatimu lagi.
Tetaplah mengingatku, seperti lautan yang tak pernah surut.
Aku akan selalu ada untukmu...







Jumat, 03 Januari 2014

Kesempatan Terakhir...

Ketika itu, aku menemukanmu di persimpangan jalanku, jalan terakhirku untuk rasa yang kau sebut itu cinta. 

Kuambil arah berlawanan agar kita tak bertemu diujung sana. Ku tersentak dan menengokmu sejenak. Tatapanmu menahanku untuk melanjutkan jalan. apalagi ini....

Untuk kemudian  aku berbalik arah beranjak menujumu. Aku menjadi murka ketika itu. Kubawa serta segala amarah,kesedihan dan penyesalan menyusulmu. 

Pandanganku menerawang jauh ke masa lalu. Berusaha mengenang setiap peristiwa yang ku lalui hingga ku temukan kau di persimpangan ini, walau sekedarnya. Aku masih bertahan dengan amarah dan kesedihanku. Tak kutemukan penawarnya jua. Kita terlahir bersama tapi tidak untuk satu.

Kini kita di jalan yang sama. Namun kita tak bisa beriringan. Aku hanya bisa memohon pada Pencipta-Kita. Untuk sebuah kesempatan terakhir, terakhir agar aku bisa menjadi Ratu dihatimu, menjadi detak dijantungmu.  Namun bila kesempatan itu tak jua datang, aku akan tetap menjadi penikmat indahnya dirimu. Karena dengan melihatmu tersenyum dan mendengar tawamu, itu adalah bahagiaku yang tak ternilai...