Temans, jawaban apakah yang kita berikan jika Ayah, Ibu, saudara, teman atau bahkan pasangan kita menanyakan apakah kita menyayangi mereka? pernahkah sekali saja kita menjawab "TIDAK"? tega kah kita mengatakan itu? meski palsu, kita akan mengatakan "Aku sangat menyayangimu". Itulah jawaban ter-aman untuk kemudian lari dari tanggung jawab setelahnya. Betapa tidak, setelah kalimat itu muncul, pasti pendengarnya akan merasa tenang dan tentram. Tapi ketika mereka meminta pembuktian, kata itu seakan tak berarti.
Sadar atau tidak, begitu mudahnya kita mengatakan... aku menyayangimu.... tetapi hanya berhenti sampai disitu dan tidak ada kelanjutannya. Maknanya pun terkaburkan oleh sikap kita sendiri. Saya pun sangat sering melakukan itu. Permintaan orang tua untuk sering saya telfon jarang sekali saya laksanakan, harus Ibu -Ayah dulu yang meminta, baru ada tindak lanjut. Ketika adik saya menceritakan keluhannya disekolah, saya hanya terdiam. Diam bukan berarti saya simpati, diam karena saya tenggelam pada masalah saya sendiri. Lalu, dimana sayang itu?
Pernahkan terlintas dipikiran kita, bagaimana kita membuat kata 'aku menyayangimu' menjadi samar? Kita hanya menggunakannya untuk keegoisan kita, mencari rasa aman, dan berteduh dari rasa tulusnya kasih sayang seseorang akibat kalimat yg kita berikan itu. Tanpa sadar kita telah mengorbankan tulusnya kesetiaan mereka dengan kebohongan kita. Entah kebohongan itu kita kemas dengan nama 'menjaga perasaan' atau apapun itu, tetaplah semu. Bayangkan jika orang-orang yang menyayangi kita mengetahui kepalsuan kita? masihkan kita punya malu untuk mengulang kata aku menyayangimu untuk mereka lagi?
Temans, kita masih punya banyak waktu memperbaiki kesalahan kita. Inilah saatnya memberikan ketulusan untuk orang-orang istimewa yang setia menyayangi kita dengan perlakuan yang tulus, bukan dengan perkataan palsu yang kita tidak bisa buktikan dengan perbuatan. Meskipun kadang kalimat itu ingin mereka dengarkan, tetapi saya yakin mereka akan jauh lebih bahagia jika kita membuktikan kasih sayang kita dengan pelakuan bukan dengan kata gombal penuh kepalsuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar